Pemilu legislatif 9 april 2009, menjadi titik tolak baru bagi pendamba jabatan, pemimpi kekuasaan atau pembela rakyat sejati…
mengapa demikian, karena dalam pemilu legislatif kita memiih wakil rakyat dari partai-partai peserta pemilu, lalu apa hubungannya dengan dengan judul diatas “Menghindari jadi caleg strss berkat strategi marketing”.

Saya melihat dari sisi marketing atau pemasaran dari fakta dilapangan yang bergulir sekarang ini yaitu banyaknya orang mengingkari fakta bahawa mereka over expectation dari mimpinya sendiri untuk duduk di “kursi terhormat” setidaknya menurut mereka.

Kenapa harus marketing, karena dalam aspek marketing kita dapat mengukur akan suksesnya produk yang kita jual atau tidak itu sebenarnya dapat dengan mudah diprediksi dalam hal ini produknya adalah caleg atau individu agar dapat menarik perhatian dan dipilih.

Dalam dunia marketing dikenal dengan PDB (Product, Defferentiation, Brand) , teori sederhana yang mudah untuk dijalankan, jika para calon anggota legislatif tersebut dapat berhitung seperti ini:

1. Kualitas Partai

2. Elektabilitas partai

3.Tokoh sentral partai

4.Pemilih tradisional partai tsb, atau segemen pemilih

5.Strategi partai (roadmap, grand strategy etc)

6.Partai yang diterima (lihat survey-survey)

Dari keenam hal tersebut, dapat dijawab dengan melakukan penelitian yang akan mengerucut pada hasil elektabilitas personal seorang caleg, hanya ada dua cara caleg tersebut bisa lulus ke senayan atau dprd I/II ataupun dpd.

1.Melalui mesin politiknya.

2.Melalui popularitas caleg baik secara (akademis, ketokohan ataupun keartisanya)

nah, jika caleg yang dari bukan partai besar dan menengah apalagi partai baru jelas tidak bisa diharapkan mesin politik akan bekerja, mungkin hanya buang-buang energi dan uang saja jika diteruskan.  kemudian diperparah tingkat elektabilitas caleg benar-benar kecil biarpun memiliki dana besar, akan sangat sulit bersaing dengan caleg lain dari partai besar dengan dana yang sama.

Disini terlihat tiga kenyataan unik tentang prilaku masyarakat Indonesia dalam berpolitik, berstrategi ataupun mengambil langkah hidup, terserah anda mau lihat dari sisi mana, yaitu :

1. Ego mengalahkan logika

2. Ego mengalahkan fakta

3.Kebodohan masyarakat

semua kegagalan itu bisa dengan mudah diprediksi, dari strategi marketing salah satunya, jadi kenapa para caleg-caleg itu masih bodoh padahal dengan sederet gelar dinama mereka? dengan wawasan yang mereka klaim tinggi dan dengan serta merta menawarkan diri mewakili rakyat,..? kalau mewakili dan mengukur diri saja tidak bisa dan berujung gila, stress atau jatuh miskin atau terlilit hutang.. itu bukan salah anda para caleg itu salah rasio dan logika yang dikalahkan oleh ego kekuasaan dan mimpi harta dan uang didepan mata…TRAGIS