Memories
04/10/2008
Luntang Lantung di FB gak sengaja.. ketemu “temen-temen” lama di Satelindo…
well.. memang baru 3 or 4 tahun kita gak bersua.. hehehe.. Jadul ah bahasanya, tapi ada chemestry yang beda jika kita flashback ke momori yang dulu pernah dialami.. sama halnya seperti memutar kaset lama didalam otak dan mencoba mengingat detil setiap peristiwa.. ada yang cukup mengelitik.. dulu saya tidak punya masalah dengan lokasi kerja, well satelindo ada di ujung jakarta tepatnya Daan Mogot, yang hectic dan gak kondusif untuk sosialite.. hehehe.. yang susah cari tempat hangout, yang hampir selalu macet.. yang gak bisa bergaul ke dunia luar (ekstrim banget yak..tp sedikit banyak ada benernya)…
Nah.. dari segala keterbatasan itu saya tetap bisa menerima dan bersyukur.. tapi jika sekarang saya diminta bekerja disana kembali, mungkin jawabnya bisa berputar-putar untuk mencari solusi lain ketimbang balik ke tempat tersebut..
Mengapa demikian.. yah karena kita sudah sangat cinta kemapanan.. ogah sulit dan sudah mencari kemudahan.. tipikal manusia.. yang jika diterapkan dalam hidup agak susah untuk berkembang.. kalau sudah di zona nyaman.. mending menetapkan sarangnya disana dan tidak atau sulit untuk berubah..yang mungkin perubahan itu adalah jalan naik untuk kehidupan yang lebih baik..
so intinya apa ya ? ya intinya KAPAN PINDAH KANTOR bayu..? hahahaha.. ada banyak nih jawaban saya…hehehe.. tunggu aja deh.. sambil elus-elus bangku empuk ku… hahahaha…
Praktis tapi bukan pragmatis
27/09/2008
Praktis sering diartikan dengan cara cepat dalam berpikir dan mencari jalan pintas, biasanya idenya jitu untuk mencari kecepatan dalam memecahkan masalah…
Tapi asal jangan pragmatis.., yang maunya mudah tanpa melihat segi-segi lain dalam tatanan teori dan sosial..
Kenapa saya tulis demikian, karena saya bosan dengan ungkapan orang yang kepepet karena sesuatu.. mereka menjadi pragmatis dan hampir pasti dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.
pola pikir pragmatis yang saya akan angkat di blog ini adalah, bagimana sesorang mempertahankan suatu hubungan berpacaran dengan langkah-langkah pragmatis, contohnya :
- Menetapkan janji setia, biasanya untuk menyenangkan atau menenangkan pihak kedua agar percaya kepada komitmen mereka.
- Menjalankan teori posesifitas (isitilah saya..nih), dengan pertanyaan standar ada dimana, ngapain dan sama siapa aja.. sudah lebih dari cukup untuk menisbatkan kalau mereka saling membutuhkan dan sudah memberikan perhatian lebih.
- Jalankan no private life theory, wah ini yang aneh bin ajaib… semua kegiatan baik personal ataupun sosial dan atau rahasia-rahasia pribadi dapat ditiadakan alias kedua belah pihak harus tau, bahasa gampangnya terus terang or blak blakan…
mungkin kalau mau, banyak lagi teori2 yang bisa ditulis..tapi cukup 3 terbaik saja dulu, konsep ini saya tulis dari sudut pandang emosional etika, tanpa ada unsur lain yang melandasi.. kenapa demikian, karena saya acap kali menemui sekumpulan orang yang berencana untuk serius dalam hubungan dengan gegabah menerapkan aturan2 yang mengharuskan hal2 yang sebenarnya bukan porsi yang terbaik untuk saling mengetahui apa yang sebenarnya kita butuhkan.
maksudnya begini, jika kita menganggap pacaran itu adalah suatu “lembaga” pendidikan untuk taraf pra nikah.. maka sudah seharusnyalah.. kita menerapkan unsur kebebasan berpikir, bertingkah dan berkehendak.. karena semakin kita menjadi diri sendiri, semakin mudah kita menerka apakah dia orang yang cocok untuk dinikahi dan mengharuskan kita menua dengannya hingga akhir hayat…
Banyak orang bilang, selama pacaran kenapa setiap benturan (berantem:red) tidak menjadi besar atau sering dapat mereda dengan hanya ucapan maaf, telepon yang ramah, sms yang baik, dan ucapan puisi cinta yang dasyat.. yah karena kita belum merasa memilikinya 100% jadi semuanya terasa mudah untuk dimaafkan lain halnya jika sudah dalam satu atap.. jika kita tidak tau karakter sesungguhnya pasti akan lebih sulit untuk menerka arah pikiran pasangan kita.
kembali ke teori pragmatis, kadang kita hanya pandai bicara “lihat bagaimana nanti saja, jalanin saja dulu” seharusnya dapat diubah.. “nanti bagaimana apakah bisa berjalan baik kedepan” seharusnya kita bisa visioner dan realistis bukan hanya sekedar mencari pasangan hidup.. tapi kemudahan hidup kedepan dengan pasangan yang tepat dan mudah untuk membuat kita sukses dengan bersama dia… karena apa? karena hidup dunia fana iniĀ adalah mencari bekal untuk dunia akherat.. jika kita menghabiskan waktu untuk mencari kecocokan saat sesudah menikah kapan anda berbuat untuk akherat anda?